Takut, tapi Harus Lebih Berani

Aug 6, 202613 min

Sebuah cerita tentang sedikit penyesalan, ketidakdewasaan dan perasaan mengganggu yang aku alami di masa lalu dan mencoba berdamai dengannya.

Terganggu

Aku merasakan sesuatu yang mengganggu pikiranku. Aku sudah mencoba menyelesaikannya dengan beberapa cara, tapi tetap saja masih selalu muncul.

Aku terganggu dengan perasaan takut; takut jika aku tidak cukup berani mengambil keputusan, takut jika keputusan yang kuambil salah, takut jika semua hal yang kulakukan itu sia-sia, takut jika aku tidak bertumbuh, takut jika sebenarnya yang aku lakukan hanyalah menbuang-buang waktu, takut dengan banyak hal dewasa yang masih sangat asing bagiku. Semua itu selalu saja merajai pikiranku dan mengganggu ketenanganku. Oh, apakah seperti ini rasanya dewasa? Ntah, apakah perasaan semua orang dewasa itu seperti ini atau ntah akunya yang pecundang?

Tahun 2022

Aku merasa seperti ini semenjak aku kuliah pertama kali. Di situ aku mulai seperti kehilangan arah dan ketakutan semuanya muncul. Hal ini karena aku terlalu sembrono di waktu SMA dan akhirnya aku kuliah di universitas swasta (meskipun aku eligible SNMPTN waktu itu sehingga memiliki peluang untuk masuk universitas negeri tanpa tes, tapi aku tidak memanfaatkannya dengan baik). Hal ini terjadi karena aku tidak merencanakan setelah lulus SMA aku mau kemana dan tidak berani mencoba mengikuti tes-tes di universitas-universitas top Indo. Perlu aku garis bawahi, di sini bukan berarti kuliah di swasta itu jelek ya, tetapi aku merasa kalah aja jika kuliah di swasta. Iya, beneran kalah dengan semua orang. Aku merasa seperti paling terpuruk pada waktu itu karena teman-temanku banyak yang diterima di kampus negeri, sehingga perasaan di hati seperti beneran kalah. Dan ketika aku menyampaikan pengumuman SNMPTN bahwa aku tidak diterima di kampus pilihanku kepada orang tuaku, aku melihat bahwa mereka sebenarnya bsik-baik saja, tapi aku sadar dan paham bahwa mereka hanya berbohong untuk menenangkanku. Aku sekali lagi menjadi terpuruk di posisi terbawah karena aku gagal membuat orang tuaku bangga, dan menganggap bahwa apakah aku sebodoh ini, sialan! (Aku hingga menghapus Instagram-ku dan hingga saat ini tidak mau memakainya lagi). Dan juga terlebih lagi, aku mempunyai standar hidup yang bisa dibilang tinggi dan perfeksionis, sehingga dalam pandanganku kuliah di negeri akan lebih membanggakan untukku, karena memang jalur masuknya yang susah dan dari situlah disaring orang-orang pilihan yang lolos ujian, yang mana orang-orangnya kebanyakan orang-orang yang pintar (ya, meskipun ga semuanya, tapi aku ingin menjadi salah satu di antara mereka, yang diterima di kampus negeri).

Aku dulu merasa takut jika aku mencoba mengikuti tes-tes masuk universitas-universitas negeri karena emang merasa tidak layak dan belom siap mental, sehingga aku cukup menyesali masa-masa SMA-ku. Setelah aku kuliah di kampus swasta selama hampir 2 tahun, aku menjadi malu dan seperti tidak layak hidup, meskipun banyak orang yang bilang bahwa kuliah di manapun sama aja. Nggak, ya! Beda banget. Menurutku, sebaik apapun kampus swasta, tetap kampus negeri lebih baik karena kampus negeri struktur organisasinya udah bisa dibilang solid, terus fasilitasnya lengkap, banyak orang-orang hebat, dan terlebih lagi pasti banyak orang-orang yang pingin masuk menjadi salah satu mahasiswa di kampus negeri top Indo, contohnya aku. Aku saat itu ketika libur kampus dan pulang ke rumah, kemudian ditanya orang-orang atau saudara terkait kuliahku bagaimana, aku langsung sedih tapi tetep mempertahankan wajah yang gembira. Sedih karena, seperti yang aku bilang di awal, bahwa aku cukup perfeksionis dan memiliki standar hidup yang tinggi dan aku tidak bisa menggapai standar ku itu; kemudian gembira karena kalo aku sedih maka tidak enak dipandang dan seperti tidak bersemangat menjalani kuliah. Orang tuaku juga sepertinya cukup malu mempunyai anak seperti aku, karena aku tidak patut dibanggakan waktu itu (meskipun dari SD hingga SMA aku sering sekali juara kelas, tapi sepertinya hal itu tidak berguna lagi setelah aku lulus SMA karena nyatanya untuk masuk universitas negeri top Indo pun aku tidak sanggup). Bahkan, ketika diwaktu tetangga atau saudara keluarga menanyai terkait kuliahku, aku melihat bahwa orang tuaku sedikit menutup-nutupi bahwa tidak tahu aku ambil jurusan apa, dan hanya bilang kuliah di kampus swasta.

Setelah hampir 2 tahun kuliah, aku sangat tidak betah dengan hal-hal yang aku lakukan tadi. Aku tidak bisa begini terus dan harus lebih berani mengambil keputusan, harus berani melangkah ke masa depan yang lebih baik, harus berani mengambil risiko, harus berani meskipun takut, harus berani melawan ketakutanku.

Karena aku beneran muak, maka pada saat libur semester di semester ke-3 (kalo tidak salah), aku memutuskan untuk berbicara kepada orang tuaku bahwa aku akan mengikuti tes SNBT lagi (sekitar tahun 2024, bulan Januari atau Februari, itu juga merupakan tahun terakhir bagi angkatan siswa angkatan 2022 mengikuti SNBT). Dan, orang tuaku menanyakan kepadaku apakah kamu gpp meninggalkan dan melepas jurusanmu yang udah lama ditempuh jika semisal aku diterima? Dan aku dengan yakin membalasnya dengan, "Ya, sangat siap dan rela," karena aku seperti tidak mendapatkan ilmu sama sekali di waktu kuliah di kampus swasta. Meskipun begitu, di satu sisi aku merasa bahwa aku menghambur-hamburkan uang orang tuaku karena sudah banyak uang yang keluar untuk kuliahku sebelumnya (meskipun aku anak tunggal, jadi ya semua uang mereka harusnya hanya habis untukku). Tapi, aku sebenarnya juga merasa tidak enak hati, dan jika aku tidak membicarakan hal ini, justru akan sangat merusak hubungan keluarga, segingga aku harus membicarakan hal ini supaya jelas. Sehingga, pada akhirnya orang tuaku setuju dan memberi izin dengan keputusanku ini. Tetapi, semisal orang tuaku tidak setuju, aku akan keluar kuliah dan memilih untuk bekerja saja, karena aku seperti tidak mendapatkan ilmu apapun di waktu kuliah. Tapi untunglah orang tuaku setuju, sehingga aku bisa berkesempatan merasakan kuliah di universitas negeri, bisa mewujudkan standar hidupku yang tinggi, dan bisa memenuhi sifat perfeksionisku, dan aku sangat yakin aku akan diterima.

Setelah persetujuan dengan orang tuaku, aku tidak hanya ingin dan bisa berkuliah di kampus negeri, tetapi juga ingin masuk ke jurusan yang benar-benar seru dan mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Setelah aku riset beberapa lama, aku menemukan bahwa jurusan teknik informatika termasuk jurusan yang seru dan akan selalu memiliki peluang mudah mendapatkan pekerjaan yang tinggi, sehingga hal itu menjadi prioritas utamaku. Ya, meskipun pasti sangat sulit untuk masuk ke jurusan itu dan nantinya pelajarannya pun tidak akan semudah yang aku bayangkan, tapi aku harus menerimanya dan berjuang. Kemudian, karena aku orangnya mudah bosan dan tidak betah dengan pelajaran yang kebanyakan teori, dan ingin lulus dengan waktu lebih cepat (tetapi juga masih bisa mendapatkan ilmu pengetahuan yang cukup), sehingga aku memutuskan untuk mengambil jurusan yang diploma 3 teknik informatika (katanya hanya butuh waktu 3 tahun, bahkan bisa lebih cepat jika kita rajin). Dan aku riset-riset lagi, ternyata ada universitas negeri daerah Surakarta, lumayan dekat rumahku yang ada jurusan itu; dan ada lagi yang cukup jauh yaitu ada di Semarang, dan Bandung kalo tidak salah. Dari pilihan itu, aku memilih yang lumayan dekat rumahku, karena universitas itu merupakan salah satu universitas top 10 Indonesia pada waktu itu—masuk top 6 atau gak 7 kalo tidak salah (sepertinya sekarang juga masih, aku jarang sekali mengikuti berita tentang hal ini)—dan juga termasuk universitas yang memiliki peminat banyak banget di Indonesia, banyak lulusan SMA atau SMK yang ingin masuk universitas ini. Waktu aku berpeluang mendapatkan jalur SNMPTN dulu, sku juga memilih kampus ini, tetapi, tetapi karena waktu itu mentalku, emosi, dan pikiranku masih ceroboh dan tolol, maka aku tidak bisa memanfaatkan peluang itu. Sehingga, aku ingin kali ini bisa diterima di situ. Karena jika aku diterima, maka karena lokasinya cukup dekat dengan rumahku, maka aku tidak perlu ngekos dan bisa menghemat uang, tetapi harus rela mengorbankan waktu perjalanan (hal itu tidak masalah bagiku). Kemudian untuk jurusan cadangan jika ternyata aku tidak lolos jurusan pertama, aku sudah merencanakan jurusan akuntansi atau juga bahasa Inggris, karena aku cukup tertarik pada kedua itu dan juga memiliki prospek karir yang bagus (lebih suka bahasa Inggris daripada akuntansi).

Keluar dari Zona Nyaman

Setelah dengan yakin memutuskan bahwa itulah jurusan-jurusan yang aku pilih, aku tidak bisa hanya bersantai-santai saja, sehingga aku memutuskan untuk mengikuti bimbel online (waktu itu yang paling terkenal adalah Ruangguru, sehingga aku beli bimbel persiapan SBMPTN tahun 2024 dengan harga cukup murah dan berlaku hingga hampir 1/2 tahun karena waktu itu ada diskon). Karena materi udah disediain dari bimbel online itu dan aku hanya tinggal melahapnya, maka aku perlu strategi yang pas, yaitu aku memakai framework seperti ini: karena materi SBMPTN banyak (ada 7 sub materi) dan tidak seperti materi CPNS yang cuma 3 hingga 4 sub materi, maka aku membagi jadwal-jadwal belajarku dengan menulisnya di kertas dan aku tempelkan di kamarku supaya tidak lupa. Aku buat jadwal dari hari Senin hingga Minggu, yang tiap-tiap harinya aku buat 2 hingga 3 sub materi; misal Senin belajar Tes Potensi Skolastik (Penalaran Umum), Literasi Bahasa Inggris, dan Penalaran Matematika. Jika aku hitung2, maka di hari ke Rabu itu semua sub materi udah ke catat di jadwal, sehingga aku isi jadwal untuk hari Kamis dan Jumat itu mengulang dari beberapa yang sub topiknya memerlukan pemahaman ekstra seperti penalaran matematika, pengetahuan kuantitatif, dan literasi bahasa Inggris. Lalu, untuk hari Sabtu dan Minggu, aku fokuskan untuk mengulang materi-materi yang udah aku pahami minggu itu, dan juga tiap sebulan sekali hingga 2 kali, aku ikut try out SBMPTN. Dari situ, aku mempunyai waktu sekitar 6 hingga 8 bulan menuju ujian SNMPTN. Dari situ juga aku mulai rutin belajar setiap hari, terkadang juga sempat tidak belajar karena burn out, tetapi tetap belajar rutin meskipun sebentar demi mewujudkan mimpiku dan menghapus perasaan malu, pecundang, sembrono; ingin mengangkat derajat orang tua sehingga mereka tidak juga ikut merasa sedih dan kasihan denganku; ingin juga ingin mewujudkan standar hidupku dan memenuhi sifat perfeksionisku; ingin juga menembus kebodohanku di waktu SMA, serta ingin membuktikan bahwa aku sebenarnya tidak sebodoh dan setolol itu, dan mampu seperti teman-temanku dan orang-orang di luar sana masuk dan lolos ke kampus negeri impian banyak orang. Meskipun aku fokus belajar SBMPTN, kuliah di kampus swasta masih aku lanjutkan sambil menunggu waktu ujian SBMPTN (sebenarnya udah tidak nyaman lagi, sehingga aku terkadang rela membolos beberapa mata kuliah demi bisa belajar materi SBMPTN dan rela begadang sampai pagi untuk belajar hal ini).

Setelah beberapa minggu lagi memasuki waktu ujian SBMPTN, aku merasa yakin bahwa aku akan lolos dan mudah mengerjakan soal-soalnya, karena aku udah latihan rutin dan juga rutin mengikuti try out. Dan, aku pernah mendapatkan nilai try out yang cukup tinggi, yaitu sekitar 720-an, sehingga aku pikir udah siap dan soal-soal pasti bakalan mirip-mirip dengan soal-soal try out yang udah pernah aku kerjakan.

Singkat cerita, tibalah waktu ujian SBMPTN, dan waktu itu aku ujiannya, aku memilih tempat di universitas yang sama dengan universitas yang menjadi tujuanku. Pada waktu ujian, aku izin di kampusku swasta (sebenarnya membolos pun tidak apa-apa aku rasa, tapi aku memilih izin supaya lebih enak aja).

Aku dapat waktu ujian siang kalo tidak salah (aku lupa). Aku fokus mengerjakan, dan jika merasa soal-soalnya terbilang susah, maka aku akan skip dan lanjut ke soal yang lebih mudah terlebih dahulu. Kemudian, yang tidak bisa aku kerjakan, akan aku kerjakan dengan ngasal atau ngeblok jawaban sama (kurang lebih begitu caraku mengerjakan). Setelah selesai, aku merasa cukup percaya diri dengan semua jawabanku, karena setelah aku mengerjakan soal-soal itu, aku merasa soal-soal yang diujikan itu lumayan bertolak belakang dengan soal-soal yang aku kerjakan di waktu try out, dan berharap juga semoga hasilnya tetap memuaskan, dan juga semoga jawaban-jawabanku yang ngasal itu banyak benarnya.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya waktu pengumumanpun tiba. Di waktu itu, meskipun aku percaya diri lolos, tapi aku juga takut kalo semisal hasilnya itu justru gagal, dan jika gagal maka aku akan merasa semua perjuanganku sia-sia. Setelah aku mempersiapkan diri untuk membuka pengumuman itu, dan aku akan siap dengan apapun hasilnya, maka aku cek di website pengumuman. Hasilnya, ternyata gagal. Aku sempat menatap kosong seperti tidak percaya, karena aku udah berusaha semaksimal mungkin, dan merasa bahwa semuanya sia-sia. Aku bilang ke orang tuaku, aku minta maaf pada mereka bahwa aku masih gagal.

Setelah itu, aku banyak melamun dan sempat berputus asa. Hingga akhirnya, aku seperti mendapat hidayah oleh Tuhan untuk terus mencoba meskipun gagal; untuk terus mencari kesempatan dari peluang yang ada; untuk terus percaya bahwa kegagalan adalah kunci kesuksesan—justru karena gagal, kamu menjadi lebih kuat dan bertambah kuat. Oleh karena itu, aku memutuskan dan bilang orang tuaku untuk mengikuti ujian mandiri. Meskipun ada sedikit tambahan biaya, tapi orang tuaku pada akhirnya menyetujuinya dan tidak mempermasalahkannya (aku merasa beruntung karena aku termasuk ke dalam keluarga yang cukup berduit). Sehingga, aku mendaftar ujian mandiri tersebut dan mempersiapkan juga dengan latihan-latihan soal, dan ikut try out juga. Di waktu itu, jika kali ini aku gagal lagi, aku akan keluar dan mencari kerja saja. Hingga akhirnya, waktu ujianpun tiba dan perlu menunggu cukup lama untuk mengetahui hasilnya.

Waktu pengumumanpun tiba, dan aku sangat bersyukur sekali bahwa aku lolos ujian mandiri tersebut di jurusan utamaku. Aku senang sekali karena ini adalah kesempatan langka bagiku untuk menempuh pendidikan di kampus impianku. Aku memberi tahu orang tuaku dan merekapun ikut bangga dan senang. Aku juga senang bisa membuat mereka senang, dan bisa memberiku harapan untuk tidak selalu merasa malu dengan hidupku, tidak merasa seperti tidak layak hidup, tidak merasa terpuruk lagi, dan juga standar hidupku terpenuhi dengan aku lolos di kampus impianku.

Tahun 2024

Setelah itu, aku memutuskan untuk keluar dari kampus lama dan memulai suasana baru di kampus impianku. Aku banyak belajar hal-hal baru, banyak materi baru yang susah dimengerti tapi seru, dan banyak ketemu teman-teman baru yang pintar-pintar (aku tidak mau kalah pintar pastinya). Meskipun begitu, aku memang senang bisa kuliah di salah satu kampus top Indo, tapi aku juga harus mulai memikirkan kemana aku setelah lulus dan aku sebentarnya mau jadi apa? Di sini, aku kembali merasa takut salah arah, takut semua yang menyita waktuku sebenarnya tidak berguna, takut membuang-buang uang. Dan yang lebih penting, aku sebenarnya masih takut kalo menjadi orang sukses; beneran seperti ada rasa takutnya untuk menggapai kesuksesan itu. Aku tahu arahnya kalo mau sukses itu begini, tapi kadang ada rasa takutnya; takut karena beban dan tuntutan hidup menjadi lebih banyak, takut tidak siap menjadi orang sukses, takut banyak hal. Ntah perasaan apa ini, apakah perasaan perfeksionisku yang membuatku menjadi selalu merasa takut atau karena apa. Sehingga, untuk membuatku tenang, aku mulai merokok dan itu sedikit membantuku, itu membuatku menjadi orang biasa, tanpa tekanan takut lagi (aku udah tahu ini buruk, tapi ini keputusanku; aku juga tidak seboros itu, biasanya 5 hari baru habis 1 bungkus. Kalian jangan ikut-ikut sepertiku ya!).

Hingga pada akhirnya, mungkin aku harus berteman pada rasa takut, karena dari situ aku merasa seperti ada arah panduan yang bisa menuntunku menjadi lebih hati-hati mengambil keputusan dan lebih hati-hati lagi dalam memanfaatkan waktu. Kurang lebih hingga sekarang, waktu tulisan ini aku tulis dan sekarang juga aku memasuki tahun terakhir kuliah di jurusanku, aku masih dan belum bisa menghilangkan rasa takutku. Aku udah banyak usaha untuk mengatasi hal itu, aku udah banyak bicara di depan cermin dan kamera untuk meyakinkan bahwa aku harus berani menghadapinya. Sehingga, pada akhirnya mungkin aku harus berteman dengan rasa takutku dan menganggapnya sebagai bagian hidupku. Hidup bersama rasa takut selamanya sepertinya bukanlah hal yang buruk bagiku selama hal itu justru membantuku menjadi lebih bijak.

Terima kasih telah membaca, itu terlalu rumit untuk dijelaskan sebenarnya.

>cd . .
© 2026 Gilang Abdian